Dampak Pergeseran Tanah, Tata Ruang Palu Perlu Peta Mikrozonasi

Dampak Pergeseran Tanah, Tata Ruang Palu Perlu Peta Mikrozonasi

Tragedi Bencana Alam palu mengisahkan banyak duka dan pilu bagi kita semua terutama korban dan keluarga yang kehilangan. Sudah kita ketahui betapa dahsyatnya becana mulai dari Gempa Bumi, Tsunami hingga Pergeseran Tanah akibat Likuifaksi yang berdampak pada berubahnya tata ruang di daerah Palu.

Likuifaksi (soil liquefaction) adalah fenomena pencairan tanah yang terjadi ketika tanah yang jenuh kehilangan kekuatan daya topang/tegangannya misalnya akibat getaran gempa bumi secara spontan(sumber:wikipedia).

Karena dampak Likufaksi di Palu sangat mengerikan menyebabkan tata ruang yang sangat berubah disana, Pemerintah dinilai perlu membuat peta mikrozonasi untuk menata ulang daerah wilayah yang terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

"Perlu dilakukan pemetaan mikrozonasi gempa dan likuifaksi sehingga sebaran daerah gempa dan liukuifaksi dapat dipetakan secara detail. Peta mikrozonasi tersebut digunakan sebagai evaluasi untuk penataan ruang Kota Palu," unkap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho di Graha BNPB Jakarta, Minggu (7/10).

Menurut Sutopo, pada 2012 telah dilakukan juga penelitian oleh Badan Geologi mengenai suatu potensi likuifaksi di Kota Palu. Dan benar saja dari hasil penelitian tersebut yang menunjukan bahwa wilayang Palu merupakan wilayah dengan potensi likuifaksi sangat tinggi.

"Adanya likuifaksi saat gempa menyebabkan kerusakan bangunan dan korban jiwa di Kota Palu lebih besar dibandingkan dengan daerah lain", kata Sutopo.

Likuifaksi terjadi akibat tanah kehilangan kekuatan dan kekakuan

Sutopo menjelaskan, bahwa likuifaksi adalah fenomena ketika tanah yang jenuh kehilangan kekuatan akibat adanya tegangan seperti gempa secara mendadak sehingga tanah yang tadinya padat menjadi cair.

"Jadi di sini ada lapisan kerikil, batu apung, dan air, ketika digoncang gempa rongga-rongga antara pasir menjadi lebih longgar yang akhirnya menjadi lumpur," jelasnya.

Karena tanah yang padat menjadi cair di dalam permukaan akibatnya secara otomatis beban diatasnya menjadi ambles. Rumah-rumah seperti terbawa hanyut dan tenggelam . Pasalnya, kedalaman air tanah disana mencapai 10 Meter.

"Saat gempa di Palu pertama 7,4 SR, lalu disusul 6 SR, otomatis tanah menjadi lembek dan menjadi lumpur," jelas Sutopo.

Kini, Kehidupan Masyarakat Palu Berangsur kembali Normal

Masa tanggap darurat bencana tsunami di Sulawesi Tengah akan berakhir pada 11 Oktober 2018. Sutopo mengatakan, geliat kehidupan masyarakat Palu dan sekitarnya kini berangsur-angsur normal.

"Matahari Department Store sudah buka. Bahkan besok Senin pegawai pemda sudah mulai masuk," ujar dia.